browser icon
You are using an insecure version of your web browser. Please update your browser!
Using an outdated browser makes your computer unsafe. For a safer, faster, more enjoyable user experience, please update your browser today or try a newer browser.

Wajah Jakarta: Karakter, Pengaruh dan Pembentuknya

Posted by on December 14, 2009

by Medha Baskara

Kota merupakan tempat permainan kekuatan (enjeu de puissance). Tiga kekuatan yang mempengaruhi pertumbuhan/ perkembangan kota adalah kekuatan politik, kekuatan ekonomi, dan pengaruh inovasi-teknologi (Dennis Rousseau dan Gerges Van Zeilles). Selain itu, kota sebagai organisme yang kompleks dan rumit, gejolak dan arah perkembangannya terkadang sulit untuk diprediksi secara akurat. Pertumbuhan dan proses suatu kota mempunyai ciri “ketidakpastian” (Rem Koolhaas dalam Kamil). Namun begitu, fenomena ketidakpastian dalam kompleksitas kota ini idealnya bisa tergiring ke dalam koridor yang terarah berupa rencana pengembangan yang baik dan sesuai konteks kawasan.

Terkait kekuatan yang berpengaruh di Kota Jakarta sebagai ibukota Negara RI, telah membentuk identitas yang khas dan berkarakter terhadap morfologi kota. Bentuk rigid, simpel, minimnya transisi ruang privat-publik mendominasi wajah kota di utara Jakarta (Kelapa Gading, Kemayoran dll). Sedangkan wajah di pusat (Jalan Thamrin Sudirman, Kemayoran, Senayan) dibentuk oleh infrastruktur (jalan) dan fasilitas yang merupakan hasil kebijakan mercusuar pada tahun 1960-an, serta bentuk-bentuk arsitektur dan lingkungan yang eksperimental di selatan Jakarta (kawasan Kemang, Setiabudi, Citos). Struktur dan wajah Kota Jakarta inipun bisa bercerita tentang kompleksitas persilangan identitas masyarakatnya karena kota adalah artefak terbesar dari aspirasi budaya manusia. Keberagaman wajah kota terkadang berbuah ketertarikan dan memori yang tak terlupakan meski termasuk didalamnya sesuatu yang tidak teratur, tidak bersahabat dan bahkan tidak manusiawi sebagai upaya cermin diri budaya kota yang belum matang.

Kekuatan Ekonomi
Yang paling mencolok dalam perkembangan Kota Jakarta adalah kekuatan ekonomi. Kawasan Kelapa Gading salah satunya, Kelapa gading (KG) terletak di Jakarta Utara, berdekatan dengan pantai utara. Karena kondisi inilah wilayah KG termasuk wilayah yang terendam banjir parah waktu lalu. KG merupakan wilayah yang dihuni oleh sebagian besar warga keturunan tionghoa. Mengingat karakter kawasan bisnis dan etnis, oleh karenanya banyak tipologi ruko mendominasi wilayah ini yang merupakan kawasan perdagangan dan jasa terutama untuk bisnis otomotif. Seperti halnya ruko pada umumya yang patut menjadi catatan pada wilayah ini adalah sedikitnya perhatian terhadap ruang transisi. Muka bangunan langsung berhadapan dengan jalan atau parkir mobil. Tidak banyak eksperimen arsitektur di KG karena memang di dominasi oleh sektor perdagangan niaga yang tidak berbasiskan pada lifestyle. Satu-satunya wilayah yang ditata baik adalah mall kelapa gading/La Piazza yang dirancang oleh Sardjono Sani, sekalipun detilnya dikritik berantakan menurut beberapa orang.

Wajah paling mencolok bagaimana ekonomi membentuk struktur dan wajah kota adalah pembangunan kawasan superblok. Kawasan pembangunan terpadu atau superblok saat ini terus menjadi penggerak kecenderungan urban skala besar di beberapa kota besar di Asia termasuk di Indonesia. Sarana lingkungan dan infrastruktur yang terintegrasi dalam areal luas menjadi salah satu daya tarik bagi warga kota untuk bekerja dan melakukan kegiatan komersial di kawasan superblok tersebut. Kawasan Pudong CBD di Shanghai, Suntec City CBD di Singapura, dan Sudirman CBD atau Mega Kuningan di Jakarta adalah contoh pengembangan kawasan terpadu berskala besar. Sebagai superblok, kualitas urban seharusnya di junjung tinggi pengelola kawasan maupun pemilik bangunan. Namun hal ini kurang mendapat perhatian di Sudirman CBD, dan beberapa gedung di Mega Kuningan. Ketakutan akan issu keamanan yang berlebihan mendorong perlakuan yang tidak manusiawi berupa pos penjagaan yang berlebihan serta pencaplokan ruang publik untuk kepentingan privat (gedung). Penyediaan ruang publik pun, kurang mendapatkan perhatian sehingga kualitas urban yang diinginkan menjadi kurang maksimal.

Kekuatan Politik
Presiden RI pertama Ir. Soekarno memimpikan Jakarta sebagai yang terbesar, terdepan, dan termegah. Harga diri bangsa setelah dijajah perlu diangkat berupa bentukan fisik yang megah dan spektakular. Untuk mewujudkan hal itu dicanangkanlah proyek mercusuar diantaranya monumen nasional, jalan Thamrin Sudirman, kawasan Istora Senayan dan Hotel Indonesia. Untuk mewujudkan fisik bangunan yang spektakular itu membutuhkan kekuatan politik untuk mewujudkannya meski banyak masyarakat yang harus berkorban. Tanah Senayan digerus dan 5.000 keluarga dipindah untuk pembangunan kompleks stadion olahraga terbesar. Ruas Jalan Thamrin dan Semanggi dihamparkan sebagai koridor bisnis. Masjid Istiqlal dibangun sebagai yang termegah dan Tugu Monas yang monumental pun ditegakkan. Wajah kota yang terbentuk merupakan obsesi pemimpin negara dalam mewujudkan politik identitas.

Pengembangan kawasan Kemayoran di era 1980-an juga tidak lepas dari kekuatan politik. Upaya mempertahankan landas pacu bandara kemayoran sebagai jalan utama kawasan merupakan penjagaan upaya masa lalu akan identitas kawasan yang dipertahankan.   Disorientasi, panas dan terik, serta skala besar dalam jarak antar satu bangunan dengan bangunan yang lain menjadi permasalahan meski lanskap kota terlihat baik. Akibatnya banyak ruang-ruang kosong , sunyi dan monoton terjadi pada antar kapling. Inilah yang membuat orang malas untuk beraktifitas di ruang luar. Pengelola kawasan kemayoran adalah pemerintah pusat (sekretariat negara). Kemayoran dikalangan bisnis property merupakan anomali/keanehan. Wilayahnya strategis, berada di pusat kota namun tidak begitu diminati oleh para investor dan konsumen. Berdasar imej, citra kawasan yang ada membuat wilayah ini sebagai miss-oportunity bagi Jakarta. Latar belakang wilayah inilah yang membuat nilai jual Kemayoran tidak begitu bagus. Dalam dunia bisnis makro, imej citra adalah segalanya sehingga desain yang stylish sekalipun jika berada dalam ruang yang tidak menjual akan tidak menghasilkan apa-apa.

Kekuatan Inovasi dan Teknologi
Seiring kebutuhan hidup akan modernitas, terjadi pergeseran paradigma akan kehidupan urban. Gaya hidup menjadi sebuah generator kawasan perkotaan termasuk di Jakarta. Karakteristik hunian di Selatan Jakarta yang lebih ramah dengan lanskap yang mengangkat nilai kawasan menjadi daya tarik para ekspatriat untuk tinggal. Gaya hidup mereka mendorong banyak perubahan kawasan terutama di kawasan kemang dan sekitarnya. Tidak saja di selatan, di kawasan kuningan juga dikembangkan Jakarta Epicentrum sebagai perwujudan kekuatan inovasi akan kualitas urban dan teknologi.

Untuk menampilkan kawasan berkelas dunia, Korporasi Bakrie menampilkan Jakarta Epicentrum di kawasan kuningan yang mengangkat gaya hidup sebagai ikon kawasan. Rasuna Epicentrum (RE) memang diorientasikan pada kehidupan warga kota yang berbasiskan lifestyle. Seluruh tower yang dibangun memiliki nuansa bentuk yang lain dari tower di jakarta kebanyakan. RE tahap ini yang dibangun pertama adalah Bakrie Tower dan kemudian The Grove Apartement/Condominium. Kemudian fasilitas lainnya menyusul sampai akhirnya tahun 2015 semua direncanakan telah rampung. Bakrie tower menjadi icon andalan RE karena bentuknya yang sculptural, model belah ketupat yang ditiap lantainya denah digeser sebesar 1 derajat horisontal sehingga menghasilkan bangunan yang meliuk-liuk. Belum lagi secondary skin (selimut bangunan) yang didesain mirip kostum spiderman. Dari presentasi maket bisa diamati bahwa jarak antar tower dibuat rapat sehingga ruang dibawahnya berkesan sempit. Ini tidak lain adalah cara untuk menghalangi penetrasi sinar matahari sehingga ruang-ruang dibawah tower senantiasa teduh supaya orang dapat beraktifitas tanpa harus takut terpanggang terik matahari. Hal yang menarik adalah RE akan difasilitasi dengan kereta trem di jalan-jalan utama layaknya jaman belanda dahulu kala. Ini nampak pada fasad koridor bagian bawah tower yang bernuansakan art deco. Sungai lebar yang berwarna biru pun akan dibuat seperti layaknya di maket dengan treatment khusus yang akan membuat sungai selalu berwarna biru nantinya.

Sebagai sebuah kawasan yang lebih besar, kawasan Kemang menjadi barometer urban culture life style. Meski infrastruktur yang tidak memadai akibat tidak direncanakan sebagai area yang hidup 24 jam dan bukan koridor jalan utama, kawasan ini telah menjadi destinasi. Kemang telah menjadi laboratorium eksperimen arsitektur degan kreatifitas yang beragam. Banyak proyek arsitektur yang eksperimental bebas dengan gubahan arsitek ternama diantaranya Andra Matin, Supie Yolodi, Yori Antar, Budiman H (DCM), Sarjono Sani, Graha Cipta Hadiprana. Sekalipun disini banyak eksperimen desain namun mobil yang parkir semrawut dan antrean panjang membuat suasana kemang sulit untuk dinikmati secara utuh. Mirip seperti melihat pasar malam yang semua tempat saling berteriak memanggil konsumen satu sama lain. Riset identitas sebagai sebuah inovasi juga dikembangkan oleh Cilandak Town Square (CITOS). Dengan luasan yang sempit ditengah menjamurnya mall dan pusat perbelanjan, branding citos mampu menyeruak menjadi salah satu destinasi gaya hidup di selatan Jakarta.

Melihat perkembangan wajah Jakarta lapis demi lapis karakter identitas yang hadir di kota haruslah dibaca sebagai keanekaragaman yang memperkaya budaya dan memperunik wajah kota. Berbeda bukan berarti ancaman tetapi pluralitas keunikan. Kita bisa hidup lebih baik dengan kekayaan identitas dan menggunakan kota sebagai wadahnya.

Kualitas Urban sebagai Tujuan Perancang Kota
Kota yang baik adalah kota yang mampu mampu meningkatkan kualitas kehidupan warganya. Mempunyai kualitas urban yang baik menjadi keharusan kota-kota di masa mendatang. Dari perjalanan ekskursi, terdapat beberapa hal penting yang harus diperhatikan bagi urban designer (perancang kota). Hal-hal yang harus dilakukan adalah

  • pendekatan visioning – seorang perancang kota harus mampu menguasai bahasa bisnis, bahasa property serta ditunjang dengan data dan riset yang tepat. Pembelajaran urban culture-pun harus menjadi pencerahan bagi klien. Menjadi Biro arsitek yang tidak berbasis pada riset akan menghasilkan desain yang monoton dan mengeksplor dan bereksperimen pada bentuk semata. pelajari cara fikir orang ekonomi, bukan untuk menjadi orang ekonom, tapi fahami cara fikir mereka sehingga kita mampu bicara dengan bahasa mereka” inilah rumus visioning.
  • Disain urban harus mampu memanusiakan pengguna (warga kota)
  • Berpikir skala yang tepat, sering kali desain yang bagus, belum tentu meningkatkan kualitas urban yang baik akibat penerapan di lapang terjadi pemborosan ruang
  • Untuk menguasai skala diperlukan pengetahuan akan tipologi. Tipologi hunian, perkantoran, rumah sakit, hotel, dan bangunan maupun fasilitas yang lain akan mempermudah dalam perencanaan dan perancangan perkotaan.
  • Menampilkan karya arsitektur kelas dunia, inovasi dan teknologi wajib dikuasai sehingga mampu menghasilkan kualitas urban yang membanggakan. Perkembangan urban di Indonesia seharusnya mampu menghasilkan urbanitas kualitas dunia, tetapi karena tidak adanya pencerahan, klien hanya berpikir sempit pada keuntungan semata tetapi kontribusi buat lingkungan kota dan warganya kurang mendapat perhatian.
  • Mendisain sampai hal terkecil dalam elemen urban. Ruang-ruang positif perlu diciptakan dan menghindari ruang negatif akan berdampak pada kualitas urban proyek.

Sebagai sebuah perjalanan, ekskursi telah mampu menampilkan wajah kota Jakarta beserta bentuk dan pengaruh yang melatarbelakanginya. Pembelajaran dan praktek secara terus menerus harus mampu menjadi pengalaman dan pencerahan sehingga proyek-proyek yang ditangani di masa mendatang mampu memberikan kontribusi pada urban culture yang baik dan pada akhirnya kualitas hidup meningkat. Semoga…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CAPTCHA Image

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>