browser icon
You are using an insecure version of your web browser. Please update your browser!
Using an outdated browser makes your computer unsafe. For a safer, faster, more enjoyable user experience, please update your browser today or try a newer browser.

Kajian Ruang Terbuka Kawasan Pelestarian Kota Tua Jakarta

Posted by on February 25, 2012

oleh : Medha Baskara

Kawasan Jakarta Kota Tua sejak abad ke-6 masehi hingga menjelang Perang Dunia II, yakni kawasan sekitar Glodok, Pancoran, Museum Fatahillah, hingga Pelabuhan Sunda Kelapa, merupakan jantung nadi perekonomian Nusantara dan bahkan Asia Tenggara, melampaui nama besar Singapura, Penang, Malaka, Saigon, ataupun Bangkok (Santosa, 2006).  Kombinasi bangunan bergaya abad pertengahan masa Baroque-Rococo hingga Art Deco paruh pertama abad ke-20 adalah aset sejarah, budaya yang tidak terhingga pada kawasan ini.  Seiring waktu kemegahan masa lalu telah memudar dan berganti dengan visual yang muram, tak terurus dan sedikit demi sedikit menuju kehancuran.  Tekanan ekonomi yang tinggi telah menjadi pembenaran penggusuran bangunan-bangunan heritage sehingga eksistensi mereka yang telah lama membentuk tengaran lingkungan binaan tidaklah selalu baik dan bahkan justru terancam.

Keterpurukan citra kawasan kota tua di Indonesia tidak saja diakibatkan pengintepretasian bangunan heritage yang tidak lebih dari sekadar benda komoditas, tetapi juga karena keterbatasan pengelola kota secara administratif dan intelektual serta rendahnya kesadaran dan kepedulian masyarakat akan hakikat pelestarian bangunan tua (Martokusumo, 2002).  Beberapa permasalahan ini yang mengancam eksistensi bangunan bersejarah dan beserta lingkungan binaan yang menyertainya.  Legitimasi suatu bangunan dan lingkungannya layak untuk dilestarikan bukan hanya karena pertimbangan nilai arsitektural semata, namun bisa karena pertimbangan kesejarahan, sosio-kultural, keilmuan, politik dan ekologis.

Pelestarian/konservasi bukanlah romantisme masa lalu atau upaya untuk mengawetkan kawasan bersejarah, namun lebih ditujukan untuk menjadi alat dalam mengolah transformasi dan revitalisasi kawasan. Upaya ini bertujuan pula untuk memberikan kualitas kehidupan masyarakat yang lebih baik berdasar kekuatan aset lama, dan melakukan pencangkokan program-program yang menarik dan kreatif, berkelanjutan, serta merencanakan program partisipasi dengan memperhitungkan estimasi ekonomi.  Semangat dalam sistem pelestarian yang menyeluruh ini perlu mendasari berbagai upaya revitalisasi yang intinya adalah menghidupkan kembali suatu tempat yang memiliki aset potensial.  Tiupan kehidupan yang diwujudkan tidak hanya sebatas fisik seperti penyelesaian infrastruktur, dukungan utilitas, pemugaran ataupun pengem-bangan lainnya, namun juga perencanaan kegiatan baru yang kreatif dan inovatif yang telah disiapkan bersama dengan mekanisme pengelolaannya.

Sebagai upaya menuju perbaikan, revitalisasi Kota Tua Jakarta telah dicanangkan dengan berbagai perbaikan fisik maupun non fisik.  Target jangka pendek dan jangka panjang telah ditetapkan, bahkan beberapa sudah dilaksanakan.  Kegiatan dengan program berkelanjutan mulai tahap-tahap jangka pendek hingga jangka panjang, mulai dari ruang yang kecil hingga yang meluas. Revitalisasi terkait dengan upaya membangun dan menggalang kekuatan masyarakat lokal membentuk denyut kehidupan yang sehat yang mampu memberikan keuntungan sosial-budaya dan ekonomi bagi masyarakatnya.  Ruang terbuka sebagai salah satu elemen kota menjadi perhatian dalam rangka revitalisasi, baik dalam membentuk identitas kawasan maupun sebagai katalisator menuju keadaan yang lebih baik.

Persoalan yang hendak diketengahkan disini adalah bagaimana kaitan place making membentuk ruang terbuka kawasan heritage dan sejauh mana usaha pengembangan ruang terbuka tersebut memberikan kontribusi bagi upaya revitalisasi Jakarta Kota Tua.  Tulisan ini akan membahas upaya revitalisasi kawasan berupa perbaikan fisik khususnya pada ruang terbuka sebagai upaya mengembalikan kejayaan masa lalu.

Ruang Terbuka

Ruang terbuka menyangkut semua landscape, elemen keras (hardscape) yang meliputi jalan, pedestrian, taman-taman dan ruang rekreasi di lingkungan perkotaan (Shirvani, 1985).  Sedangkan Prinz (1980) menyatakan ruang terbuka merupakan pembentuk struktur dasar sketsa sebuah kota.  Ruang terbuka dapat berupa tempat-tempat di tengah kota, jalan-jalan, tempat-tempat belanja (mall) dan taman-taman kecil. Simpulan yang bisa ditarik dari beberapa pengertian ruang terbuka (openspace) adalah ruang yang terbentuk, berupa softscape dan hardscape, dengan kepemilikan privat maupun publik untuk melakukan aktivitas bersama (komunal) dalam konteks perkotaan.  Secara garis besar tipologi ruang terbuka adalah park (taman), square (lapangan), water front (area yang berbatasan air),  street (jalan) dan lost space.  Selanjutnya dalam konteks Jakarta Kota Tua, ruang terbuka yang dibahas lebih lanjut adalah ruang publik (umum).

Ruang publik merupakan suatu lokasi yang didesain (walau hanya minimal) dimana siapa saja mempunyai hak untuk dapat mengaksesnya, interaksi diantara individu didalamnya tidak terencana dan tanpa kecuali dan tingkah laku para pelaku didalamnya merupakan subyek tidak lain dari norma sosial kemasyarakatan. Sebuah ruang publik/ruang terbuka dapat dikatakan dapat berfungsi secara optimal ketika bisa memenuhi aspek/kaidah seperti etika (kesusilaan), fungsional (kebenaran) dan estetika/keindahan (Jokomono, 2004)

Aspek etika mengandung pengertian tentang bagaimana sebuah ruang publik dapat ‘diterima’ keberadaannya dan citra positif seperti apa yang ingin dimunculkan yang senantiasa melekat dengan keberadaan ruang publik tersebut.  Aspek fungsional setidaknya terdapat tiga faktor yang terkandung, yakni sosial, ekonomi dan lingkungan.  Faktor sosial merupakan syarat utama menghidupkan ruang publik, terdapat orang berkumpul dan terjadi interaksi.  Selain sosial juga terdapat faktor lingkungan dimana ligkungan yang nyaman mampu menjadi daya tarik bagi orang untuk masuk didalamnya. Sedangkan aspek estetika ruang publik terdapat tiga tingkatan, estetika formal, fenomenologi/ pengalaman dan estetika ekologi.  Estetika formal merupakan estetika dimana obyek keindahan memiliki jarak dengan subyek.  Estetika pengalaman dimana obyek dinikmati dengan partisipasi atau interaksi  dan estetika ekologi, obyek keindahan dinikmati melalui proses partisipasi dan adaptasi yang memungkinkan kita berkreasi terhadap ruang tersebut.

Konsep Pembentukan Ruang Publik

Interaksi yang terjadi antara manusia dan lingkungannya melibatkan indera penglihatan, pendengaran, penciuman dan peraba.  Persepsi melibatkan dan mengumpulkan seluruh informasi dai penginderaan ini serta meramunya menjadi pemahaman ruang.  Berbeda sengan sensing yang hanya melibatkan empat kemampuan panca indera, persepsi juga melibatkan perasaan dan emosi serta interpretasi.  Ittelson (1978) menggolongkan empat dimensi dalam persepsi yaitu  a) cognitive, pemikiran, organisasi dan pengumpulan informasi; b) affective, perasaan; c) Interpretative, mengarahkan arti dan asosiasi ruang, dalam menginterpretasikan informasi  manusia biasanya bertolak dari memori dan perbandingan pengalaman; d)evaluative, menilai dan menggolongkan baik dan buruk.

          Konsep penting dalam persepsi lingkungan adalah sense of place (genius loci).  Konsep ini menyatakan bahwa pengalaman manusia bisa melebihi aspek fisik dan penginderaan, tetapi juga bisa menciptakan keterikatan dengan semangat yang ditimbulkan oleh lingkungan tersebut (spirit of place).  Dalam konteks perkotaan, prinsip sense of place merupakan salah satu kunci keberhasilan ruang publik.

Sense of Place (sumber: John Montgomery, 1998)

 Selanjutnya untuk menciptakan ‘sense of identity’, Von meiss (1990) menciptakan strategi desain yang harus dilakukan diantaranya adalah a) menciptakan ruang dan lingkungan yang responsif dan berdasarkan kepada pendalaman nilai serta perilaku orang tertentu atau grup yang dituju, serta keunikan lingkungan yang turut membangun identitas masyarakatnya; b) partisipasi dari calon pengguna dalam perancangan lingkungan, dapat dicapai dengan menghilangkan pemisah antara perancang dan pengguna; c) menciptakan lingkungan yang bisa dengan mudah diadaptasi oleh pengguna.  Ruang publik berfungsi sebagai penyangga dan fasilitas kegiatan publik.  Nilai ruang publikyang dapat digunakan sebagai penuntun arah pengembangan ruang terbuka menurut Carr yaitu meaningful, demokratis dan responsif.   Lebih detail ketiga nilai primer tersebut adalah:

  1. Responsive, ruang dirancang dan diatur untuk melayani kebutuhan penggunanya. Kebutuhan utama manusia terhadap lingkungannya adalah kenyamanan, relaksasi, pengikat aktif dan pasif, dan petualangan.  Relaksasi mengeluarkan manusia dari aktifitas sehari-hari. Pengikat aktif dan pasif antar manusia dengan lingkungannya menciptakan rasa kebersamaan dan memiliki.
  2. Democratis, ruang yang demokratis akan melindungi hak dan kebebasan dari setiap pengguna.  Aksesibel untuk semua orang dan memberikan kebebasan untuk bertindak.  Ruang publik bisa menjadi tempat untuk berekspresi yang lebih bebas dibandingkan rumah dan tempat bekerja.
  3. Meaningful, memberikan setiap penggunanya koneksi antara ruang, kehidupan persoalan dan lingkungan yang lebih luas, dalam konteks fisik ataupun sosial. Tipe koneksi bisa berupa keterikatan emosi masa lalu dan masa depan, secara psikologis dan kultural.

Dari definisi nilai ini muncul lima fungsi dasar ruang publik yang dibutuhkan oleh pengguna dan harus dipenuhi perancangnya antara lain :

  1. Comfort, kenyamanan adalah kebuituhan standar.  Kebutuhan makan, minum dan tempat berteduh pada saat lelah membutuhkan beberapa tinggkat kenyamanan.  Untuk daerah tropis, tempat yang nyaman termasuk memberikan perlindungan dari sinar matahari dan suhu dalam keadaan sedang.  Fitur yang penting dipertimbangkan di ruang terbuka adalah tempat duduk yang nyaman beserta orientasinya, jarak tempuh atau aksesibilitas, tempat untuk makan, saling berinteraksi dan mudah diawasi bagi anak-anak.
  2. Relaxation,  walaupun kenyamanan psikologi menjadi syarat utama untuk relaks, pernyataan relaksasi lebih kepada fisik dan pikiran.  Dalam konteks perkotaan, elemen alami, pohon dan airserta pemisahan antara aktifitas kendaraan dan manusia membantu manusia untuk beristirahat dan rileks.
  3. Passive engagement,  bentuk paling populer dari keterikatan pasif antara manusia dan lingkungannya adalah duduk-duduk dambil mengamati (nongkrong).  Tempat duduk yang lebih tinggi memungkinkan orang mengamati sekelilingnya tanpa kontak mata dengan orang yang diamatimerupakan pilihan yang diminati.  Atraksi lain yang menarik adalah kegiatan formal dan pertunjukan insidental (event).  Jadwal pertunjukan merupakan pendekatan manajemen ruang terbuka yang cukup populer di berbagai urban plaza dan taman-taman.
  4. Active engagement,  atraksi yang dilakukan secara berkala dengan tema tertentu banyak dilakukan untuk menghidupkan sebuah ruang publik.  Salah satunya adalah berupa ruang komersial.
  5. Discovery,  keinginan untuk melihat dan menemukan hal baru adalah alasan orang untuk mendatangi ruang-ruang publik.  Hal-hal menarik bisa berupa bentukan bangunan, orang-orang baru, suasana festival lengkap dengan atraksinya dan sebagainya.

Ruang Terbuka Kawasan Pelestarian Kota Tua, Jakarta

Struktur kota pada kawasan Kota Tua secara umum terbentuk dengan aksis Utara-Selatan.  Hal ini terbentuk berdasarkan perkembangan kota sebagai kawasan perdagangan yang berbasis pelabuhan.  Ruang terbuka (open space) pada kawasan terbentuk dari Square (taman Fatahillah), Street (Jl Kali Besar Barat, Jl Kali Besar Timur, Jl Kali Besar Timur 1,2,3,4,5, Jl Pintu Besar, Jl Pos Kota, Jl Cengkeh), Waterfront (Kali Besar) dan Lost Space-ruang negatif (area dibawah jalan tol, rel kereta api, serta ruang antar gedung lainnya).

Jaringan Ruang Terbuka Kota Tua Jakarta (sumber: hasil olahan peta 2006)

Secara umum ruang terbuka pada kawasan membentuk beberapa simpul besar diantaranya, a) depan stasiun Beos (Jakarta Kota) yang juga mampu berfungsi sebagai gerbang kawasan Kota Tua dari selatan (keberadaan stasiun kereta api, stasiun Busway dan aksis jalur utama kota) ; b) Taman Fatahillah, berupa plaza dengan pengembangan sebagai pusat kegiatan kawasan serta c) Kali Besar, berupa koridor sungai.  Upaya revitalisasi sudah mulai dilakukan dengan visi “Terciptanya kawasan bersejarah Kota Tua Jakarta  sebagai daerah tujuan wisata budaya yang mengangkat nilai pelestarian dan memiliki manfaat ekonomi yang tinggi”.  Secara detail bentuk ruang terbuka beserta lokasi dan upaya-upaya revitalisasi dapat dilihat pada Tabel 1.

 Tabel 1.  Ruang terbuka Jakarta Kota dan Kegiatan Revitalisasi

                       sumber : hasil olahan, 2007

Berdasarkan analisa pada tabel 1, kendala utama ruang terbuka pada kawasan ini adalah tidak menyatunya tipologi ruang terbuka dalam satu kesatuan yang kontinyu.  Terdapat beberapa penggalan/pemisah yang terbentuk dari lintasan jalur lalulintas yang padat.  Menurut Trancik (1986), terputusnya keterhubungan pedestrian antar destinasi penting membuat terganggunya frekuensi pejalan kaki yang tidak menyatu.  Dalam upaya pengembangan, langkah pertama yang penting dilakukan adalah mengidentifikasi pemisah dalam kontinuitas ruang dan selanjutnya diisi dengan bangunan yang membentuk keterhubungan dan kemungkinan ruang terbuka yang terhubung dimana hal ini akan mendorong terjadinya investasi.  Sebagai upaya memudahkan/menyambung sirkulasi antar kawasan adalah dibangunnya Jalan Penyeberangan Orang (JPO) melalui bawah tanah antara gedung ex Bank Exim menuju gedung Stasiun Jakarta Kota.

Kenyamanan lain yang perlu dikembangkan adalah jarak tempuh, secara keseluruhan antar ketiga destinasi utama kawasan masih dalam jarak pejalan kaki 400m (Llewelyn-Davies, 1992).  Berjalan kaki merupakan moda prima utama dari segala bentuk pergerakan dimana kualitas kemanusiaan dan nuansa warna kepribadian terungkap dan tercermin pada seseorang bergerak diatas kedua kakinya, selagi ia berintegrasi dengan masyarakat dan lingkungannya.

Jokomono (2004) mengamati ruang publik secara umum membentuk dua jenis yang dapat kita jumpai yaitu square (lapangan seperti plaza dan alun-alun) serta berbentuk linier yang merupakan perluasan fungsi jalan.  Di negara Eropa karakteristik ruang publik pada umumnya berbentuk square, sedangkan di Asia pada umumnya berbentuk linier.  Urban realm di kota Asia tidak terjadi di taman atau alun-alun seperti di kota-kota Eropa, melainkan di jalanan dan lorong-lorongnya.  Kehidupan sehari-hari berlangsung sejak dinihari hingga larut malam dijalanan kota-kota asia yang sibuk.  Bahkan hubungan sosialpun tak jarang terbentuk disisi jalanan.  Oleh karenanya jalan dan trotoirnya mempunyai peranan yang sangat penting bagi kota-kota di Asia(Poerbo 2004).

 Square (Lapangan)

Seperti umumnya di Eropa, gedung balaikota Jakarta Kota dilengkapi dengan lapangan yang dinamakan ‘’stadhuisplein‘’.  Karakteristik square yang dibangun seperti di tempat asalnya (Belanda), membuat aktifitas pengunjung di kawasan studi berbeda seperti di tempat asalnya.  Tradisi kehidupan jalan bagi orang Asia membuat aktivitas di jalan lebih aktif dibanding di lapangan.  Hal ini dikarenakan pengembangan revitalisasi belum menjangkau di Taman Fatahillah.  Orientasi pengunjung masih disekitar pepohonan.  Hal ini menunjukkan kenyamanan iklim mikro masih menjadi kebutuhan di kawasan ini.  Upaya mengurangi pepohonan dirasa akan menjadi bumerang dan kurang menarik minat pengunjung untuk datang.  Penyediaan site furniture seperti kursi ringan, tempat jajanan makanan dan minuman yang rapi bersih seperti di Bryant Park dirasa akan mampu menghidupkan kawasan.

Vegetasi mampu memberikan iklim mikro yang nyaman, serta digunakan sebagai pusat kegiatan kawasan

 Aktifitas PKL pada kawasan beserta jasa informal lebih dominan pada kawasan.  Meskipun mampu menghidupkan kawasan, perlu diwaspadai perkembangannya.  Hal ini dikarenakan okupansi ruang publik untuk aktivitas berdagang yang dilakukan secara terus menerus (rutin) akan sulit dilakukan kegiatan pengaturan.  Aktivitas ini cenderung bertambah baik aktivitas, intensitas penggunaan maupun pelakunya.  Untuk menghindari hal tersebut, dilakukan shift kegiatan dengan rotasi mingguan.  Sehingga siapapun dapat memanfaatkan ruang publik dengan nyaman dan aman. Ruang publik merupakan ruang yang mudah dijangkau oleh siapa saja, sehingga untuk meminimalisir okupansi ruang publik untuk kegiatan perdagangan maka perlu lokasi khusus yang didekat ruang publik, diperuntukan fungsi ekonomi secara temporer.  Upaya ini merupakan cara mengakomodasikan pemanfaatan ekonomi pada ruang publik tanpa mengurangi esensi sebagai ruang  publik. Beberapa standar desain plaza dapat dilihat pada tabel 2.

 Jalan (street)

          Seperti sudah dijelaskan , jalan merupakan ruang kehidupan penting bagi orang Asia termasuk di Indonesia.  Berdasarkan catatan ompas (24 Desember 2004) Kawasan kota tua sulit ditata, karena kawasan itu masih menjadi daerah perlintasan kendaraan (trough traffict).  Sekitar 70 persen kendaraan yang datang ke Kota Tua ternyata hanya sekadar melintas.

Tabel 2.  Standar Desain dan Guidelines Plaza menurut Marcus & Francis (1998)

Ruang kehidupan sosial di jalan belum terbentuk karena jalan yang dilalui sangat padat.  Appleyard (1981) mengatakan jalan yang baik adalah jalan yang demokratis, dalam artian jalan yang mempunyai arti bagi masyarakat, dapat diakses oleh siapa saja, mendorong partisipasi masyarakat, dicintai dan dipelihara/dirawat oleh masyarakat.  Hal ini belum terjkadi pada kawasan karena secara umum upaya revitalisasi belum berhasil sepenuhnya.

Jalur pejalan kaki yang dibutuhkan pada tiap lokasi yang berlainan pun menjadi berbeda jenisnya.  Untuk kelompok pejalan kaki penuh, maka dibutuhkan jalur yang menghubungkan satu pusat kegiatan dengan pusat kegiatan lainnya.  Untuk kelompok pejalan kaki pemakai kendaraan umum, dibutuhkan jalur yang menghubungkan tempat asal  menuju tempat pemberhentian kendaraan umum.  Sedangkan kelompok pejalan kaki pemakai kendaraan pribadi penuh membutuhkan jalur pejalan kaki berfungsi campuran (pedestrian/shopping mall) serta jalur antara tempat parkir dengan lokasi aktivitas.  Alan Jacobs (1995) mengajukan beberapa kriteria untuk menciptakan jalan yang berhasil adalah :

  • Jalan harus turut membentuk masyarakat, dengan cara menyediakan tempat bagi orang untuk berinteraksi, dapat diakses oleh semua orang dan mudah ditemukan.
  • Jalan harus nyaman dan aman secara fisik
  • Jalan mendorong partisipasi, orang berhenti berjalan untuk berbincang-bincang atau duduk di tepi dan mengamati lingkungan sebagai partisipan pasif.
  • Jalan yang baik adalah jalan yang diingat sebagai jalan kenangan dengan impresi yang kuat.
  • Jalan yang benar-benar terbaikadalah jalan yang representatif dan dapat ditandingkan dengan jalan lainnya.

 Kawasan Kali Besar

Kawasan Kali Besar merupakan kawasan penuh bangunan bersejarah.  Jalan Kali Besar Barat terdapat Toko Merah yang dibangun Gubernur Jenderal Van Imhoff tahun 1730. Pada deretan bangunan di sebelahnya terdapat bekas gedung Bank Standard Chartered dan HSBC yang digunakan sebelum Perang Dunia II.   Upaya revitalisasi telah mulai dilakukan dengan beberapa program Kali Besar  Bersih yang merupakan kerjasama Jakarta Old Town-Kotaku, Pemda DKI, Bank HSBC, & Bank Indonesia.  Perbaikan ini terkendala fungsi ciliwung di kawasan sebagai saluran buang/ draenase kota, sehingga upaya tidak dapat maksimal (wawancara Bapak Candrian).  Pada tahun  2006 penataan tepian Kali Besar ditata dengan lanskap yang menarik namun belum banyak warga yang memanfaatkan sebagai ruang publik dengan berekreasi dan beraktivitas sosial.  Upaya penggalakan maupun pembentukan iklim mikro dengan vegetasi evergreen merupakan alternatif terbaik pada kawasan.

Ruang Terbuka Hijau

Untuk menjaga kota tetap nyaman untuk ditinggali, integrasi pertumbuhan kota dan ketersediaan ruang terbuka hijau harus di capai dalam perancangan Jakarta Kota Tua.  Strip development model diharapkan mampu mengakomodasikan fungsi sosio-ekonomis dan ekologis, maka dua hal pokok  yang harus diperhatikan adalah infrastruktur dan rasio komposisi ekologis.   Secara konkrit untuk mewujudkan suatu tatanan kota dengan konteks kekinian maka issu atau tema lingkungan harus diangkat dalam perencanaan jaringan transportasi orang, barang dan informasi harus bertumpu pada pertimbangan efisiensi energi serta kepedulian terhadap alam.

Urban green network merupakan suatu pemikiran awal untuk menata kawasan koridor dan ‘patch’ hijauan di perkotaan sebagai salah satu sistem elemen infrastruktur yang mampu berfungsi sebagai ‘living and cultura’ dan ‘green space’.  Upaya simbiosis atau ’co-existence’ terhadap nilai-nilai kultural masa lalu dan kekinian serta pendekatan eko-teknologi kawasan harus dapat dilakukan.  Dua hal yang perlu ditekankan disini adalah infrastruktur dan rasio komposisi ekologis dalam kaitannya dengan pembangunan ruang kota dengan komponen artifisial pengisinya secara simbiosis dan berkelanjutan.  Melalui perancangan koridor perkotaan secara ekologis diharapkan dapat terwujud suatu tatanan kota yang lebih manusiawi dan ramah lingkungan.

Kesimpulan

Revitalisasi telah mulai dilaksanakan di Jakarta Kota.  Sampai saat ini perbaikan ruang terbuka masih dalam tahap perbaikan jalan berupa traffic calming.  Hal ini sudah tepat mengingat Trancik (1982) menyarankan untuk menghidupkan kawasan diperlukan kontinuitas jaringan terlebih dahulu sebelum upaya detail berupa intervensi bangunan maupun lanskap.  Langkah selanjutnya adalah memberikan ruang sosial yang baik bagi pengunjung, warga sekitar maupun orang yang bekerja disekitar Jakarta Kota dengan menyediakan ruang kehidupan.  Ruang kehidupan ini dapat berupa intervensi penyediaan lokasi makanan dan minuman serta area interaksi sosial.  Hal ini merupakan strategi Whyte dimana kehidupan sosial pada ruang publik akan mampu meningkatkan kualitas hidup baik secara individu maupun secara komuniti.

Sosialisasi tentang pentingnya revitalisasi yang terkait erat dengan intervensi fisik ini perlu diupayakan untuk menumbuhkan kemauan publik dan swasta untuk melakukan investasi pada pelestarian pusaka alam dan budaya. Semangat konservasi hendaknya menjadi fondasi yang kuat berbagai kemitraan yang akan ditumbuhkan. Namun, menyertakan pihak swasta untuk melakukan investasi di bidang ini memerlukan komitmen jangka panjang dan kapasitas pengelolaan yang andal. Selain menyiapkan dokumen rancangan untuk heritage investment, agar revitalisasi kawasan dapat berkelanjutan dan tidak merusak konsep pelestarian, beberapa aspek perlu dipersiapkan, antara lain:

  1. Stabilitas peraturan yang mendukung masa depan kawasan revitalisasi.  Investor selalu mempertimbangkan resiko bila akan investiasi di kawasan tertentu.
  2. Perlu ada pilot project investasi yang dapat ditunjukkan keberhasilannya sehingga dapat dijadikan alat promosi mengundang sektor swasta.
  3. Perlu dipersiapkan mekanisme agar penduduk lokal justru tidak terpinggirkan dengan kehadiran investor dari luar. Justru invenstasi mandiri oleh lokal diprioritaskan.

Beberapa cara untuk mendukung revitalisasi tersebut antara lain melalui peningkatan volume kegiatan yang memiliki kaitan dengan kota tua, salah satunya melalui penyelenggaraan festival budaya, event maupun kegiatan temporer lainnya.

 

Referensi

Adishakti, LT.   2005.  Revitalisasi Bukan Sekedar “Beautification”,  kompas  7 Januari 2005.

Carr, et al. 1992.  Environment and Behavior Series:PublicSpace CambridgeUniversity press. London

Djokomono, Imam.  2004.   Ruang Publik Kota, Pedagang Kaki Lima Dan Publik Transportation.  1st Internasional seminar, National Symposium, Exhibition and Workshop in Urban Design, Yogyakarta 2004.

Kurokawa, Kisho, 1994, The philosophy of symbiosis, Academy Editions, London

Martokusumo, Widjaja.  2002.  Bangunan Tua yang Hilang di Bandung.   Kompas 9 Juni 2002

Santosa, Iwan.  2006.  Kenangan Bandar Termegah Asia Tenggara.   Kompas 9 Maret 2006

Shirvani, Hamid.   1985.  The Urban design Process.  Van Nostrand Reinhold Company Inc. New York

Trancik, Roger.  1986.  Finding Lost Space.  Van Nostrand Reinhold Company.  New York

Kompas, 21 Agustus 2004.  Oud Batavia”, Kawasan Mahal Yang Terlupakan

www.pps.org

www.kompas.co.id

www.arsitekturindis.com

One Response to Kajian Ruang Terbuka Kawasan Pelestarian Kota Tua Jakarta

  1. Tsanny

    Thank you. Sangat membantu :)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CAPTCHA Image

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>